Dalam sejarah peradaban manusia, selalu melahirkan tokoh-tokoh besar yang dapat mengharumkan nama baik dan menentukan sejarah dimana mereka berada. Di Pulau Bali, sesungguhnya banyak lahir tokoh-tokoh seperti itu, antara lain I Gusti Ketut Jelantik yang dalam Perang Buleleng mampu memukul mundur pasukan Belanda yang dipimpin dalam ekspedisi pertama tahun 1846 dan ekspedisi kedua tahun 1848. Sehinga Mayor Jenderal  Van der Wijk harus diganti oleh Mayor Jenderal Michiels, seorang tokoh militer Belanda dalam Perang Paderi dan Perang Jawa. Kemudian Pahlawan Wanita yang dijuluki Wanita Besi, yaitu Ida Dalem Isteri Kania yang mampu menewaskan Mayor Jenderal Michiels dalam Perang Kusamba, Klungkung.

Dalam pergolakan revolusi tahun 1945 – 1949 di Bali, banyak sekali muncul pejuang-pejuang kelas satu yang berkualitas dunia, dari segi semangat, keberanian dan jiwa juang yang gagah berani. Di dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, meski dengan senjata bambu runcing tidak gentar menghadapi musuh yang bersenjata modern. Salah seorang pejuang tersebut ialah Anak Agung Gede Anom Mudita dari Bangli. Karena kecakapannya, dalam perang gerilya, komandan perang gerilya I Gusti Ngurah Rai mengangkat Anak Agung Gede Anom Mudita sebagai Koordinator Wilayah Pertempuran Bali Bagian Timur (Bangli, Gianyar, Klungkung, Karangasem). Untuk mendukung perjuangan gerilya itu, Anak Agung Gede Anom Mudita mampu memobilisasi rakyat, bahkan hasil tanah seluas sekitar 100 hektar milik keluarga dipersembahkan untuk perjuangan.

Anak Agung Gede Anom Mudita berperan aktif dalam perjuangan Long March bulan Juni – Juli 1946 menuju Gunung Agung, bertempur dengan semangat berkobar-kobar dalam pertempuran Pesagi dan Tanah Aron yang dimenangkan oleh gerilyawan. Dalam keadaan penuh penderitaan dan duka nestapa di hutan belantara, beliau berjanji dan sepakat untuk bertempur sampai titik darah penghabisan bersama I Gusti Ngurah Rai, sampai Indonesia Merdeka Seratus Persen.

Ketika harus berpisah dengan I Gusti Ngurah Rai, karena situasi dan kondisi perang gerilya, Anak Agung Gede Anom Mudita berada di wilayah Buleleng menghadapi tentara Belanda bersama para pejuang setempat.

Di tahun 1947 beliau kembali ke Bangli, menyebarkan semangat pertempuran sehingga Bangli laksana bara api melawan Belanda. Anak Agung Gede Anom Mudita dalam perang gerilya berpindah-pindah dari desa satu ke desa lain, seperti Desa Siakin, Mengani, Dausa, Mangguh, Blandingan, Suter, Pengejaran, Manikliu, Catur, Sukawana, Munduk Masem, Jehem, Peninjoan, Landih, Pengotan, Susut, Demulih, Abuan dan banyak lagi desa yang lain, sampai beliau gugur sebagai Kusuma Bangsa di Desa Penglipuran. Kalimat bertuah yang sering diucapkan beliau ialah, “Bahwa kemerdekaan seratus persen hanya bisa dicapai dengan perjuangan rela berkorban segalanya dengan tekad merdeka atau mati”.

Buku perjuangan berjudul Merdeka Seratus Persen yang mengisahkan perjuangan Anak Agung Gede Anom Mudita ini, merupakan karya yang patut dihargai. Generasi penerus bangsa perlu membaca buku ini untuk lebih mengenal dan menghargai perjuangan Anak Agung Gede Anom Mudita, sekaligus juga lebih mengenal dan lebih menghargai jasa-jasa pejuang lainnya. Serta dapat mengambil manfaat dari semangat jiwa kepahlawanan yang tidak kenal menyerah.

Bahwa sejarah Indonesia dalam 72 tahun merdeka, banyak memperlihatkan pertentangan antara idealisme dan realita. Idealisme yang ingin mewujudkan suatu pemerintahan yang adil dan makmur, melaksanakan Pancasila dan UUD ‘45 secara murni dan konsekuen, justru melahirkan realita pemerintahan yang belum mampu mencapai cita-cita itu, bahkan muncul ketidakadilan sosial, korupsi, kolusi, nepotisme, narkoba, kesenjangan sosial, kemiskinan, pengangguran, separatisme, radikalisme dan hal-hal lain yang semakin melenceng dari cita-cita itu.

Sejarah Indonesia seolah-olah mencerminkan apa yang dikatakan oleh Schiller : “Éine Grosse Epoche Hat Das Jahrhundret Geboren, aber Der Grosse Moment Findet Cein Kleines Geschlecht” (Suatu masa besar dilahirkan abad, tetapi masa besar itu melahirkan manusia kerdil).

Bahwa dengan penuh rasa optimis generasi milenial akan mampu mewujudkan Indonesia emas di masa mendatang.

Om Wiswani Dewa Sawitar Duri Tani Para Suar Yad Bhadram Tanna Suwa (Ya Tuhan Yang Maha Esa, mohon jauhkan kami dari pemimpin yang jahat, berikan kami pemimpin yang negarawan).

Akhirnya, komentar atas Buku Merdeka Seratus Persen ini, sepanjang menyangkut fakta-fakta perjuangan Anak Agung Gede Anom Mudita, cukup kredibel.

 

Denpasar, 3 November 2017

DEWAN PIMPINAN DAERAH
LEGIUN VETERAN REPUBLIK INDONESIA
PROVINSI BALI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here