Pengantar Penulis

merdeka seratus persen

Segala puja-puji pada Dzat Yang Maha Hidup. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan luhur, buku Merdeka Seratus Persen ini dapat tersaji dan terwujud.

Suatu ketika, penulis berkunjung ke Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli, dalam rangka mempersiapkan pagelaran Suluk Mahardika yang diprakarsai oleh warga masyarakat Penglipuran. Selaku Ketua Pengelola, Pak Moneng, menyarankan penulis untuk mengunjungi Candi Pahlawan, yang terletak di sebelah selatan desa. Mendapat saran seperti itu, maka setelah selesai melakukan rapat koordinasi, penulis segera bergegas ke tempat yang dimaksud dengan ditemani Pak Sudibia. Sesampainya di lokasi Candi Pahlawan, perhatian penulis tertuju pada sebongkah batu yang berada tepat di bawah pohon beringin yang rindang. Karena di atas batu tersebut tertulis kalimat: “Merdeka Seratus Persen, Kapten TNI A.A. Gde Anom Mudita”.

Setelah mendapat sekelumit penjelasan tentang keberadaan Candi Pahlawan dan batu dari Pak Sudibia, penulis lalu mengarahkan truna-truni (pemuda) Penglipuran membuat fragmen tari Merdeka Seratus Persen untuk dipentaskan dalam pagelaran Suluk Mahardika bertajuk “Cahaya Berkelambu Waktu”. Meski hanya ada waktu 2 hari untuk mempersiapkan segala sesuatunya, para pemuda yang penuh semangat akhirnya mampu menyajikan fragmen tari dengan apik. Penulis yang meminta panitia mengundang pihak keluarga Almarhum Kapten TNI A.A. Gde Anom Mudita dari Puri Kilian, kemudian berjumpa dengan A.A. Gde Bagus Ardana (adik Alm) dan A.A. Anom Suartjana (putra Alm), yang begitu hikmat mengikuti rangkaian acara pada tanggal 5 Mei 2016. Malam itu menjadi awal perjumpaan kami, yang berlanjut hingga terbangun suatu komitmen bersama untuk dapat menyajikan buku ini.

Sebongkah batu beserta candi yang terbangun di masa awal kemerdekaan dan menandai peradaban bagi suatu bangsa, ternyata menyimpan kisah sarat makna dan dipenuhi dengan nilai-nilai luhur seorang kesatria sejati, yang menjadi kusuma bangsa. Perjalanan hidup A.A. Gde Anom Mudita yang menuntaskan dharmanya di medan juang untuk mempertahankan kemerdekaan RI, mengingatkan penulis pada kisah Abimanyu dalam Epos Mahabrata, yang gugur di medan tempur dalam rangka menjalankan perang dharma.

Buku Merdeka Seratus Persen ini, terdiri dari VI Bab, yang pada tiap-tiap babnya menyajikan rangkaian kisah, peristiwa dan spirit yang sangat terkait dengan perjalanan hidup Almarhum Kapten TNI A.A. Gde Anom Mudita. Dalam penulisan yang bersifat historis, dokumentatif, naratif, dan eksploratif ini, selain mengadakan penelusuran serta wawancara secara langsung dengan berbagai narasumber yang menjadi saksi hidup, penulis bersama tim juga melakukan kajian pustaka dari berbagai buku, dokumen, dan manuskrip yang menjadi sumber data.

Buku yang bernapaskan sejarah perjuangan Kemerdekaan RI ini, sangat kental dengan nuansa nasionalisme, spiritualisme, dan kebudayaan, sebagaimana yang menjadi identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Sehingga buku ini diharapkan dapat menambah khazanah kepustakaan dan melengkapi kisah-kisah luhur pahlawan bangsa Indonesia, yang telah mendedikasikan dirinya dengan sepenuh jiwa-raga untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Selain itu, penulis juga berharap bahwa buku yang ditulis bertepatan dengan momentum 70 Tahun Gugurnya Almarhum Katen TNI A.A. Gde Anom Mudita ini, bisa menumbuh-kembangkan nilai-nilai luhur dan semangat kebangsaan bagi generasi penerus bangsa.

Penulis sangat menyadari buku yang ditulis selama sekitar 7 bulan ini, masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Namun, dengan perjuangan yang disertai tekad dan kerja keras dari tim (A.A. Gde Bagus Ardana, A.A. Anom Suartjana, A.A. Made Karmadanarta dan A.A. Bagus Krisna Adipta W.), akhirnya buku Merdeka Seratus Persen, Kapten TNI A.A. Gde Anom Mudita ini dapat tersaji. Tanpa didukung oleh berbagai pihak, buku ini belum tentu dapat terwujud. Penulis sangat berterimakasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan membantu dalam proses penerbitan buku ini. Terutama penulis haturkan kepada; kedua orang tua penulis beserta keluarga, keluarga Puri Kilian – Puri Agung Bangli, Keluarga Besar Veteran Kabupaten Bangli dan Provinsi Bali, serta masyarakat Penglipuran. Tidak lupa, penulis juga mengucapkan banyak terimakasih kepada Ida Widyastusi (KMAy. Sekar Kinasih) beserta keluarga Mekar Sari yang telah turut mendukung proses penulisan ini.

Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua, dapat mengokohkan karakter dan jati diri bangsa, serta menjadi media untuk merefleksikan diri dalam rangka mewujudkan merdeka seratus persen, baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa yang berdaulat, bermartabat dan berbudaya adiluhung.

 

Satria Mahardika

Puri Kilian, 28 Oktober 2017